- SALURKAN DONASI ANDA DEMI KEMAJUAN WEBSITE INI - BANGIL [dot] INFO HADIR DENGAN DUKUNGAN ANDA
headerphoto
** INFO GRESS -- " Welcome to Portal Bangil Online versi kedua - HELP: Anda memiliki foto - foto seputar kota bangil, ( yang tempoe doeloe atau sekarang ), silakan kirimkan ke redaksi kami di email: admin@bangil.info, mari bersama kita memajukan serta berbagi informasi tentang kota bangil di dunia maya.**
rss.jpg rss.jpg 

Normalisasi Kedung Larangan - Bekacak

Rabu, 3 Februari 2010 15:18:28 - oleh : admin

Space Iklan

Setiap musim hujan tiba, kecamatan Bangil selalu menjadi langganan banjir. Hal ini membuat komisi A DPRD Kabupaten Pasuruan prihatin menggelar rapat dengan Muspika Bangil. Hasilnya, sungai Kedung Larangan hingga Bekacak harus dinormalisasi.

Rapat itu sendiri dilakukan di kantor Kecamatan Bangil. Selama rapat, enam anggota Komisi A melakukan dialog dengan Muspika. Yang dibahas tentu saja tentang langkah pemerintah agar Kecamatan Bangil tak selalu menjadi langganan banjir.

Angota komisi A yang hadir yakni, Syamsul Hidayat, Mustoliq, Asror Nawawi, Yusuf Daniyal, Rohani Setiawan dan Nikmah Jamillah. Sementara dari pemkab ada Kabag Pemerintahan Sugeng Prayitno dan Camat Bangil Agus Rudianto. Selain itu, beberapa lurah turut hadir.

Rapat tersebut dikatakan Syamsul Hidayat adalah kegiatan monitoring yang rutin dilakukan dewan. "Kami merapatkan apa saja yang dibutuhkan di Kecamatan Bangil. Khususnya untuk mengantisipasi banjir. Setiap banjir tiba, banyak kantor pelayanan masyarakat yang terganggu," terang Syamsul.

Tiap kali banjir datang lanjut Syamsul, banyak pihak yang dirugikan. Yang disayangkan, tiap kali banjir datang penanganannya juga tak maksimal. Bahkan masyarakat hanya bisa pasrah apabila banjir tiba. Seakan-akan banjir tidak bisa dihilangkan dan hanya bisa diterima saja.

Tidak heran, rapat itu seolah menjadi ajang keluh kesah para perangkat pemerintahan.Ada lurah yang meminta agar sungai besar macam Kedung Larangan dinormalisasi (pengerukan).

Ada juga lurah yang berharap agar pemkab menambah fasilitas peralatan untuk penanganan kala banjir tiba. Misalnya, perahu untuk pertolongan pada warga yang wajib dimiliki Kecamatan Bangil.

"Setiap kali banjir tiba, kegiatan kantor kami juga terganggu. Bahkan peralatan kantor banyak yang rusak. Misalnya komputer terendam air hingga rusak. Bagaimana mengantisipasi hal itu, karena otomatis pelayanan publik terganggu," tanya Lurah Kalirejo.

Ada pula lurah yang meminta agar pemerintah setidaknya memberikan perhatian khusus terhadap penanganan paska banjir. "Sebab paska banjir reda, sawah di Kelurahan Masangan terendam sebanyak 180 hektar. Belum lagi para pemilik tambak yang dirugikan. Ada baiknya pemerintah juga memperhatikan lebih untuk menganggarkan dana paska banjir," terang Lailatul Rafifah, perwakilan dari Kelurahan Masangan.

Segala pertanyaan pun dijawab. Pada intinya langkah yang harus segera disikapi agar Bangil tak selalu banjir, adalah harus dilakukan normalisasi sungai. "Normalisasi dilakukan sepanjang sungai Kedung Larangan sampai Bekacak. Jika itu dilakukan, maka banjir setidaknya dapat dikurangi," jelas Camat Bangil Agus Rudianto.

Sementara Syamsul Hidayat dari Komisi A menambahkan, segala keperluan untuk mengantisipasi banjir sudah dirapatkan dengan dinas terkait. "Mulai PU Bina Marga, Cipta Karya sampai Pengairan. Nanti semua aspirasi ini akan kami sampakan saat rapat dengan dinas yang bersangkutan. Tujuannya tetap untuk meminimalisir bencana banjir," paparnya.

Sementara Sugeng Prayitno selaku Kabag Pemerintahan berjanji akan menyampaikan pada instansi terkait. Khususnya untuk penanganan banjir. "Terus terang kami juga selalu diliputi kekhawatiran apabila langit mendung. Seakan-akan banjir akan tiba kalau langit menghitam. Dan kami tidak ingin itu selalu terjadi. Mengingat Bangil selain akan dijadikan pusat pemerintahan, juga wilayah yang sering dijadikan tempat untuk untuk berkumpul masyarakat Kabupaten," terang Camat Bangil. (jawapos.com)

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Seputar Bangil" Lainnya

  Close Ads
Mudik Senyum Indosat 2010